Asrama Mahasiswa Sumbawa jadi Umpan Politik, Mahaiswa Sumbawa Korban.


Oleh : L.RIZKY PANGDUA RAMADHAN

Setiap ajang pemilu, kampanye dan mengobral janji menjadi instrumen utama bagi calon pemimpin dalam menarik simpati konstituen. Masyarakat disuguhi berbagai program dan visi yang menjanjikan perubahan serta kesejahteraan. Namun, apakah semua janji tersebut realistis dan memiliki dampak positif bagi rakyat? Bagaimana implikasinya jika janji-janji tersebut tidak terealisasi atau bahkan direalisasikan namun merugikan sebagian besar masyarakat?
Janji kampanye sering kali menjadi alat retoris yang digunakan untuk membangun citra positif seorang kandidat. Dalam perspektif komunikasi politik, McNair (2011) mengatakan bahwa kampanye politik adalah bentuk persuasi yang bertujuan untuk mempengaruhi opini publik. Para kandidat biasanya menyesuaikan janji mereka dengan kebutuhan dan harapan rakyat guna memperoleh dukungan sebanyak mungkin. Walau terkadang, kandidat tersebut hanya membual tanpa memikirkan secara matang bagaimana merealisasikan janjinya.
Kemudian pada kenyataannya, tidak semua janji kampanye dapat terealisasi. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan anggaran, dinamika politik di parlemen, serta kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan. Dalam teori Rational Choice yang dikemukakan oleh Anthony Downs (1957), pemilih seharusnya bersikap rasional dalam menilai janji politik, mempertimbangkan kredibilitas kandidat, serta menilai sejauh mana janji-janji tersebut dapat diwujudkan secara konkret. Oleh karena itu, seyogyanya kandidat memaparkan konsep yang dapat dicerna masyarakat, dengan bahasa yang sederhana dan jujur.

Salah satu isu menjadi janji dan komoditas politik disetiap perhelatan pesta demokrasi terjadi di tana sawawa adalah Asrama M ahasiswa Sumbawa. Baik itu pemilu ataupun pilkada. Janji untuk memperbaiki dan membangun asrama fasilitas asrama sering dijadikan sebagai bahan retorika oleh para politisi yang dijadikan sebagai bahan kampanye untuk meraih dukungan disetiap kontestasi politik terutama suara dikalangan mahasiswa dan pemuda. Namun, seringkali janji tersebut tidak terwujud dengan kongkret, atau jika terwujud pun hanya sebatas pencitraan yang tidak memberi dampak signifikan bagi kualitas pendidikan dan kehidupan mahasiswa. Hal ini menggambarkan fenomena di mana isu asrama mahasiswa digunakan secara strategis untuk memenangkan suara, tetapi tidak selalu mencerminkan komitmen yang nyata terhadap kesejahteraan pendidikan.
Dalam konteks ini, teori Political Marketing (Pemasaran Politik) jika dikaitkan dengan teori ini yakni, bagaimana isu asrama mahasiswa dimanfaatkan oleh politisi. Political marketing menekankan pentingnya pencitraan dan komunikasi dalam meraih simpati publik. Asrama mahasiswa menjadi isu yang sangat relevan dalam konteks ini karena mahasiswa adalah kelompok yang memiliki peran penting dalam proses politik dan sosial. Politisi tahu bahwa mahasiswa sering kali menjadi simbol perubahan dan kemajuan, sehingga mereka memanfaatkan isu asrama untuk memperlihatkan perhatian terhadap kelompok ini.
Teori Agendasetting juga relevan untuk menganalisis fenomena ini. teori ini, media dan politisi berperan penting dalam membentuk agenda publik dengan menentukan isu-isu yang harus menjadi perhatian utama. Asrama mahasiswa sering kali dimasukkan dalam agenda politik oleh kandidat atau partai politik untuk memperlihatkan bahwa mereka peduli terhadap kebutuhan dasar mahasiswa. Namun, dalam banyak kasus, isu ini hanya ada selama kampanye dan segera dilupakan setelah pemilu selesai. Dengan kata lain, janji-janji ini lebih berfungsi untuk menarik perhatian daripada untuk menciptakan perubahan nyata.
Di sisi lain, teori Patronage Politics  menjelaskan bagaimana janji tentang asrama mahasiswa sering kali dipakai untuk membangun hubungan patron-klien antara politisi dan masyarakat. Janji-janji pembangunan asrama ini seringkali menjadi cara bagi politisi untuk membangun loyalitas dengan kelompok tertentu, dalam hal ini mahasiswa, yang diharapkan akan memberikan suara mereka dalam pemilu atau pilkada berikutnya. Terkadang, meskipun janji tersebut tidak sepenuhnya terlaksana, loyalitas yang dibangun selama kampanye masih bisa menguntungkan politisi.

MelihaSecara History Asrama yang Melahirkan Banyak Tokoh

Bagi Mahasiswa sumbawa tahun 80an hingga 2000an siapa yang tidak mengenal “Wisma Samawa H. L Mala Syarifuddin” atau tiap generasi sering menyebutnya “Asrama Mahasiswa Samawa”. Dari asrama, telah banyak melahirkan generasi emas mulai dari politisi, akademisi, hingga birokrat.
Banyak organisasi mahasiswa, dan pegiat kebudayaan lahir dari rahim asrama ini. Tidak jarang, setiap mahasiswa yang pernah tinggal di asrama ketika tamat selalu mendapatkan jabatan strategis di pemerintahan maupun profesi lainnya. bisa jadi itu buah manis dari proses pahit yang telah dilalui selama berada di asrama. Tapi tempat yang penuh sejarah itu terbakar di tahun 2011.
Dan bisa jadi mahasiswa Sumbawa sekarang yang ada di Mataram tidak tau kalau pernah ada Asrama Mahasiswa Sumbawa, dan makin hari pun suara lantang dan desakan dari mahasiswa pemuda Sumbawa yang ada di Mataram mulai hilang di telan bumi.
Urgensi adanya  asrama bagi mahasiswa pemuda pelajar Sumbawa yang ada di Mataram, merupakan wadah untuk bertemu, berkumpul dan melakukan kegiatan Kesamawaan.akan tetapi ironisnya PEMKAB dan DPRD kabupaten tidak ada tindakan yang kongket untuk menyelesaikan permasalah ini, justru isu asrama mahasiswa Sumbawa selalu di jual sebagai bahan kampanye di setiap pesta demokrasi, pemimpin Sili bergantinya janji-janji yang tidak di tetapi lantas apa bentuk pertanggung jawaban pemerintah Kabupaten Sumbawa terhadap mahasiswa yang berkuliah, bersekolah di Mataram ini. mereka adalah calon generasi penerus pemimpin, pemikir,dan praktisi Kabupaten Sumbawa.

Janji pembangunan asrama mahasiswa di Sumbawa dalam setiap pesta demokrasi mencerminkan bagaimana isu ini dijadikan komoditas politik yang tidak selalu diikuti dengan realisasi yang sesuai harapan. Dengan menggunakan berbagai teori politik, kita bisa melihat bahwa janji-janji tersebut seringkali lebih berfungsi sebagai alat pemasaran politik dan pembentukan citra, daripada sebuah upaya konkret untuk memperbaiki kehidupan mahasiswa. Oleh karena itu, masyarakat, terutama mahasiswa, harus lebih kritis dan cerdas dalam menilai janji-janji politik, agar tidak terjebak dalam retorika yang hanya bertahan sementara.

Harapan kita semua mahasiswa pemuda pelajar harus tetap kita menyuarankan pembangunan kembali. Dan menuntut seluruh pemerintah Kabupaten Sumbawa  untuk segera melakukan pembangunan kembali asrama mahasiswa Sumbawa -Mataram

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa