Bima yang bermartabat, atau Investor yang bermartabat.
Oleh : Denis Al-istigfarlin
Culas sekali bupati bima dalam melihat kondisi problem tambak udang ilegal. Jelas yang kita ketahui secara bersama tertera dalam aturan nomor 32 tahun 2009 yang berlaku, tambak udang ilegal tidak semesti dan sepantas nya di biarkan beroperasi begitu saja, sebab yang di jaga adalah dampak lingkungan nya.
sialnya bupati bima yang kita taruh segudang harapan dalam menjaga melihat hajad hidup masyarakat, kini telah bersama investor-investor asing tambak udang ilegal dalam mendukung kehancuran, dengan bahagia hati nya membiarkan pencemaran lingkungan,
pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran udara, pencemaran ekosistem, semua dampak nya untuk masyarakat wera kedepan.
dan itu adalah konsekuensi nyata yang akan di perhadapkan untuk kita masyarakat wera kemudian hari. kita di bayang-bayangi oleh rasa ketakutan akan dampak lingkungan yang akan datang di kemudian hari, sedangkan bupati bima dan investor asing tertawa riang gembira dalam menonton menyaksikan tangis-tangisan ketakutan itu.
investor-investor asing itu selesai mengambil kekayaan lingkungan dan memperoleh keuntungan yang tidak terhitung angka nominal nya, sedangkan kita asli pribumi Wera, yang punya alam hanya dapat menangis menyaksikan kencuran alam warisan para moyang, kini telah menjadi lautan limbah penyakit.
Bagi bupati bima itu tidak menjadi soal menurut nya, sebab upah dari investor lebih merah kertas nya di banding tangisan merah darah kalian masyarakat. suara-suara investor lebih lantang terdengar dari pada suara-suara rakyat di telinga kanan bupati bima.
suarah rakyat: ambil semaumu garap sesuka hati mu sampai engkau mendapatkan untung berlipat-lipat wahai bupati bima yang bermartabat.
Tapi jangan engkau cemari lingkungan kita dengan penyakit yang tak kunjung kita sembuhkan dengan dedaunan di hutan yang kita miliki.
Cukup di Afganistan sana yang para penduduknya di cemari oleh limbah tambak, jangan engkau bawa lagi di tanah Kita. tanah Wera.
Komentar
Posting Komentar