Kritikan Terbuka untuk BEM FHISIP: Jangan Jadi Simbol Tanpa Suara



BEM FHISIP, sebagai representasi mahasiswa, seharusnya menjadi corong utama dalam menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi kolektif. Namun sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Kalian seolah berubah menjadi lembaga yang hanya hadir dalam baliho dan agenda seremonial, tanpa benar-benar menjejak di tengah realitas dan keresahan mahasiswa.

Keacuhan kalian dalam menjemput aspirasi adalah bentuk nyata dari kegagalan fungsi. Tidak ada ruang diskusi yang dihidupkan, tidak ada advokasi yang digencarkan, bahkan komunikasi dengan mahasiswa pun nyaris nihil. Padahal, suara mahasiswa tidak bisa dianggap sebagai formalitas atau basa-basi organisasi—itu adalah amanat yang wajib kalian emban.

Apakah kalian lupa siapa yang kalian wakili? Ataukah kursi jabatan telah membuat kalian lupa cara mendengar?

Jika BEM hanya menjadi pajangan elit organisasi yang sibuk dengan internal dan eksistensi semu, maka kalian tak ubahnya struktur kosong—bernama, tapi tak bernyawa. Mahasiswa tidak butuh BEM yang diam ketika ada ketidakadilan, yang pasif saat ada keluhan, dan yang hadir hanya saat acara pemotretan.

Ini bukan sekadar teguran, ini panggilan untuk bangkit. Jadilah BEM yang mendengar, berdiri bersama mahasiswa, dan berani bertindak. Karena jika kalian terus acuh, maka percayalah—legitimasi kalian bukan hanya akan runtuh, tapi akan terkubur dalam ketidakpercayaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa