Mundur Sekejap, Maju Mendadak: Demokrasi Setengah Hati di FHISIP UNRAM


Oleh : Mavi Adiek Garlosa (Mahasiswa Fakultas Hukum, Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik UNRAM) 

“Mereka yang mestinya menjaga pagar, kini ikut masuk ke arena; lalu kita diminta percaya bahwa pertandingannya tetap adil?”

Pemilihan Wakil Dekan (PILWADEK) Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mataram (FHISIP Unram) kembali menjadi sorotan. Bukan karena antusiasme sivitas akademika atau adu gagasan dari para calon, melainkan karena praktik birokrasi yang menodai nilai-nilai demokrasi yang semestinya dijaga di lingkungan akademik.

Salah satu sorotan tajam dalam proses PILWADEK kali ini adalah pencalonan mendadak dari sekretaris panitia pemilihan, yang sebelumnya terlibat aktif dalam proses verifikasi dan pemeriksaan berkas calon lain. Secara mengejutkan, yang bersangkutan mengundurkan diri dari kepanitiaan dan langsung mencalonkan diri sebagai wakil dekan, semua terjadi dalam hari yang sama, lengkap dengan surat keputusan pengunduran diri yang langsung ditandatangani.

Situasi ini bukan hanya menciptakan konflik kepentingan, tetapi juga mengaburkan batas antara birokrasi dan politik fakultas. Bagaimana bisa seseorang yang memeriksa kelayakan calon lain kemudian menjadi pesaing dalam pemilihan yang sama? Ini bukan sekadar pelanggaran prosedural, tapi merupakan tamparan keras terhadap etika kelembagaan.

"Jika birokrasi kampus bisa dibentuk sesuai kepentingan oknum, maka demokrasi bukan sedang dirayakan, melainkan sedang dijalankan seperti sandiwara."

Cawe-Cawe Birokrasi yang Terstruktur

Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ketika SK pengunduran diri bisa keluar dengan cepat dan mulus dalam hari yang sama, itu menunjukkan adanya dugaan cawe-cawe atau keterlibatan birokrasi dekanat. Apakah ini kebetulan? Atau justru bukti bahwa birokrasi telah dimobilisasi untuk melancarkan jalan bagi calon tertentu?

Fakultas Hukum,Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik (FHISIP) sebagai lembaga ilmiah seharusnya menjadi contoh dalam menjaga integritas prosedural. Tetapi kenyataan ini justru menunjukkan bagaimana prosedur bisa dilipat dan dibentuk mengikuti kepentingan oknum. Dalam dunia akademik yang sehat, netralitas panitia pemilihan adalah prinsip tak terganggu. Sekali panitia ikut bermain sebagai peserta, maka seluruh proses kehilangan legitimasi.

Demokrasi Tanpa Nilai

Kita sering mendengar bahwa demokrasi di kampus adalah miniatur demokrasi bangsa. Jika benar begitu, maka apa yang terjadi di PILWADEK FHISIP ini adalah cermin buruk dari pembusukan sistem sejak dini. Demokrasi tanpa nilai etik akan menjelma menjadi demokrasi prosedural belaka, sebatas pemilihan, tapi tanpa keadilan.

Mahasiswa, dosen, dan Seluruh masyarakat kampus berhak mempertanyakan:
Apakah proses ini adil bagi calon lain yang sejak awal mendaftar dan mengikuti seluruh tahap dengan jujur?
Apakah fakultas tidak memiliki mekanisme untuk mencegah benturan kepentingan seperti ini?
Dan yang paling penting: di mana peran dekanat dalam menjamin bahwa proses PILWADEK bersih dari intervensi dan akomodasi diam-diam?

Kegentingan Etika di Ruang Akademik

Apa yang terjadi di PILWADEK FHISIP UNRAM saat ini bukan sekadar insiden birokrasi, melainkan indikasi dari kegentingan etik yang mengancam kredibilitas institusi akademik. Bila kampus gagal menjaga netralitas dan keadilan dalam proses internalnya, maka jangan heran jika publik kehilangan kepercayaan pada lulusan-lulusannya, yang belajar bukan dari buku, tapi dari teladan yang bobrok.

Pemilihan Wakil Dekan seharusnya menjadi ruang kontestasi ide dan integritas, bukan arena permainan licik yang dibungkus formalitas. Jika kampus tidak berbenah, maka “wakil rakyat” dari dunia akademik hanya akan menjadi cerminan dari sistem yang sejak awal tidak pernah bersih.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa