Negara Demokrasi, Kritik di Bungkam.

Oleh : Nawa Hammadi (Mahasiswa Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan ilmu politik) 

Indonesia adalah negara demokrasi yang mana kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat. Demokrasi berasal dari kata demos dan kratos yang berarti pemerintahan oleh rakyat.

 Demokrasi ini memiliki beberapa prinsip salah satunya adalah hak asasi manusia. Demokrasi bertujuan untuk melindungi hak asasi manusia, termasuk kebebasan berekspresi. 
Di Indonesia, kebebasan berpendapat dan berskspresi dijamin oleh undang-undang Dasar 1945 dalam pasal 28E ayat (3) yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. 

Alih-alih pemerintahan negara Indonesia saat ini menjamin warga negaranya bebas dalam berekspresi dan berpendapat yang telah dijamin oleh UUD 1945, tapi malah memenjarakan, mengasingkan, dan membungkam rakyatnya dalam berpendapat dan berekspresi secara bebas. Melihat kasus mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang ditangkap karena membuat dan menyebarkan meme satir mengenai presiden Jokowi dan Prabowo. Tindakan ini adalah bentuk kriminalisasi terhadap kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi. Bahkan bukan hanya mahasiswi ini saja yang menjadi korban penangkapan dan kriminalisasi melainkan ada banyak kasus dan korban kriminalisasi terhadap rakyat yang dilakukan oleh aparat pemerintahan Indonesia saat ini. 

"Katanya negarawan kok anti kritikan"

Seharusnya, para pemimpin kita ini merefleksikan gaya kepemimpinan para pemimpin-pemimpin kita terdahulu, seperti Umar bin Khattab yang mana Umar bin Khattab tidak anti kritikan pada masa beliau menjabat sebagai khalifah. Sehingga pada suatu hari beliau Umar bin Khattab dikritik dan disanggah bahkan sampai diancam dibunuh menggunakan pedang oleh seorang arab badui pada masa itu jikalau dalam kepemimpinannya Umar ini terjadi pembelokan atau bengkok dan tidak pro rakyat maka Umar akan dibunuh. Lantas, apa kemudian respon umar terhadap kritikan dan ancaman itu? 
Apakah Umar membunuhnya?
Apakah Umar memenjarakannya?
Jawabannya, alih-alih umar membunuh dan menyiksanya tapu Umar sama sekali tidak keberatan dengan kritikan dan ancaman orang arab badui itu, malahan Umar sangat bersyukur kepada allah karena masih ada orang dari kalangan rakyatnya yang mengkritik dan meluruskan kepemimpinannya jika ada yang bengkok dan tidak pro rakyat. 

Maka, selagi kita masih bisa melawan pemerintah dengan adanya kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat, maka hanya satu kata yaitu LAWAN!! 

"Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan dimenangkan"
-Sultan Sjahrir-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa