Alam Bukan Warisan Pendahulu, Tapi Pinjaman dari Anak Cucu


Oleh: Muhamad Jaesa – Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Mataram

Pengantar
Nusa Tenggara Barat hari ini sedang diramaikan oleh berbagai isu besar, salah satunya adalah Percepatan Provinsi Sumbawa. Namun, kali ini saya ingin membawa corong pemikiran ke arah yang berbeda. Sebagai penulis, saya ingin mengekspresikan keresahan saya terhadap satu isu yang kurang hangat di tengah masyarakat, tetapi masih bergema di kalangan pemuda-pemuda pemerhati lingkungan.
Inspirasi ini muncul setelah saya mendengarkan lagu “Berita Kepada Kawan” karya Ebiet G. Ade. Liriknya yang berbunyi: "Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang" menggugah saya untuk menulis. Menurut saya, isu lingkungan di Nusa Tenggara Barat tidak boleh dikalahkan oleh hiruk-pikuk politik yang terus berkembang.
Bagaimana tidak? Banyak sekali kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pembangunan besar-besaran. Salah satu masalah paling krusial adalah deforestasi dan tambang ilegal. Berdasarkan data WALHI, 60% hutan di NTB mengalami kerusakan, sebagian besar akibat aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Tambang ilegal hingga hari ini masih menjadi momok serius yang merugikan lingkungan dan membahayakan keselamatan masyarakat. Maka pertanyaan saya muncul, Sampai kapan kerusakan ini akan terus berlanjut? Dan apa tanggung jawab kita sebagai 

generasi yang hanya meminjam alam ini dari anak cucu kita?

Kerusakan Alam di Nusa Tenggara Barat
NTB dikenal luas karena keindahan alamnya. Sayangnya, kerusakan juga kian nyata akibat aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab. WALHI merilis hasil investigasi yang menunjukkan bahwa 60% hutan di NTB rusak akibat aktivitas pertambangan dan alih fungsi lahan.
Beberapa perusahaan tercatat menjadi penyumbang kerusakan, di antaranya PT AMNT di hutan Sumbawa Barat dengan IPPKH seluas 7.000 hektare, dan PT STM di Hu'u Dompu dengan IPPKH seluas 19.260 hektare. Di sektor pariwisata, pembangunan KEK Mandalika yang luasnya mencapai 1.250 hektare juga berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.
Tak hanya itu, hutan-hutan di Pulau Sumbawa telah banyak dialihfungsikan untuk penanaman jagung secara masif, yang merusak ekosistem dan memperluas lahan kritis.

Penyebab Kerusakan Alam di NTB
Asap tak akan muncul tanpa api. Angka kerusakan yang sangat besar tentu tidak muncul tanpa sebab. Seperti telah dijelaskan, aktivitas pertambangan ilegal, alih fungsi lahan, dan pembangunan yang mengabaikan prinsip-prinsip keberlanjutan adalah penyebab utamanya.
Ketidaktegasan regulasi dan lemahnya pengawasan membuat kegiatan merusak lingkungan terus berlangsung seolah-olah tidak ada risiko. Padahal, dampaknya luar biasa besar.

Akibat dari Kerusakan Alam di NTB
Kerusakan lingkungan bukan sekadar soal keindahan yang hilang, tapi soal bencana yang nyata. Akibat langsung dari deforestasi dan tambang ilegal di NTB antara lain banjir, tanah longsor, kekeringan, perubahan iklim, serta gangguan kesehatan masyarakat.
Contohnya, di Sekotong, masyarakat menghadapi ancaman serius akibat paparan limbah merkuri dari aktivitas tambang emas ilegal. Menurut data BNPB, sejak 2011 hingga 2020 terjadi:
233 kejadian banjir,
31 tanah longsor, dan
49 kejadian kekeringan di wilayah NTB.
Sebagian besar bencana ini berkaitan erat dengan kerusakan lingkungan yang semakin tak terkendali.

Alam yang Kita Tempati Adalah Pinjaman dari Anak Cucu
Melihat data dan kenyataan di lapangan, jelas bahwa kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan. Kita sebagai generasi hari ini memikul tanggung jawab moral dan ekologis terhadap generasi yang akan datang. Kita bukan pemilik alam ini kita hanya meminjamnya dari anak cucu. oleh karena itu mari
mulai memperhatikan lingkungan dari hal kecil:
menjaga kebersihan,
menolak aktivitas perusakan lingkungan,
menyuarakan kepedulian di media sosial,
serta mendesak pemerintah untuk menindak tegas aktivitas tambang ilegal dan pelanggaran lingkungan lainnya.
Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk bergerak selain 

sekarang. Kita tidak boleh menunggu hingga semuanya terlambat. Alam bukan warisan yang bisa kita habiskan, tetapi amanah yang harus kita jaga.
Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Alam Indonesia!
#LestariAlamkuLestariBumiku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa