BEM & DPM PAJANGAN BIROKRASI

Oleh : Muhamad Hawari (Pengamat Politik Kantin) 

Sudah berbulan-bulan sejak BEM dan DPM FHISIP UNRAM resmi dilantik. Namun sayangnya, pelantikan itu tampak seperti seremoni kosong—sekadar selebrasi jabatan, bukan titik awal dari kerja-kerja kerakyatan. Kampus ini sunyi dari geliat organisasi, sepi dari gerakan yang visioner, dan kosong dari program-program yang menyentuh denyut nadi mahasiswa.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Atau lebih tepatnya: apa yang sebenarnya kalian kerjakan?

Kabar yang beredar di lapangan simpang siur dan mengkhawatirkan. Katanya, program kerja masih dalam tahap pembahasan. Tapi anehnya, pembahasan ini lebih panjang daripada sidang pembahasan APBN. Kalau menyusun program saja butuh waktu berbulan-bulan, lalu kapan akan dilaksanakan? Hingga hari ini, belum terlihat satu pun program konkret, apalagi terasa dampaknya.

Lebih memprihatinkan, muncul isu bahwa sekretariat justru lebih sering jadi tempat membangun asmara, bukan membangun gerakan. Jika benar, ini bukan sekadar memalukan—ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan mahasiswa. Kita butuh pemimpin, bukan pasangan. Kita butuh kerja nyata, bukan drama cinta.

DPM, sebagai lembaga pengawas, juga jangan tertidur di bawah selimut birokrasi. Kalian bukan pelengkap penderita. Jangan sampai justru DPM yang perlu diingatkan untuk mengingatkan. Pengawasan yang tidak tegas adalah bentuk pembiaran. Dan pembiaran adalah bagian dari kegagalan.

Kami, mahasiswa FHISIP, sedang menagih janji. Visi dan misi yang dulu kalian sampaikan di hadapan publik kampus bukanlah dongeng yang boleh dilupakan setelah menang. Program kerja seharusnya menjadi manifestasi dari visi-misi, bukan daftar kegiatan seadanya demi mengisi laporan pertanggungjawaban.

Jika hari ini BEM dan DPM belum menunjukkan kerja nyata, belum menunjukkan arah gerak, dan masih berkutat pada diskusi tanpa aksi—maka izinkan kami berkata lantang: lebih baik kosongkan saja kursi itu. Lebih terhormat mundur dengan kepala tegak, daripada dimundurkan karena tak mampu bekerja.

Jika kalian tak bisa bergerak, jangan mengaku organisatoris. Jika tak bisa mewakili mahasiswa, jangan duduki kursi yang diberikan oleh mahasiswa. Jika jabatan hanya dijadikan formalitas administrasi, maka lebih baik tidak ada BEM dan DPM sama sekali. Karena lebih baik tidak ada, daripada ada tapi tidak ada gunanya.

Ini adalah kritik. Ini adalah peringatan. Ini adalah suara mahasiswa yang bosan dibohongi oleh retorika kosong. Jika kalian tak mampu berubah—kemas barangmu. Tinggalkan kursi itu. FHISIP tak butuh pejabat kampus yang hanya sibuk memperpanjang jabatan, tapi lupa menunaikan tanggung jawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa