Fasilitas Buruk, Pendidikan Lumpuh, dan Energi Mahasiswa yang Meredup di FHISIP UNRAM


Oleh: Mavi Adiek Garlosa (Mahasiswa Fakultas Hukum Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Mataram) 

Universitas adalah rumah bagi pencarian ilmu, pusat lahirnya pemikiran kritis, dan wadah pembentukan karakter bangsa. Namun, bagaimana mungkin misi luhur itu dapat dijalankan bila fasilitas dasar kampus sendiri tidak layak? Kondisi di Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik Universitas Mataram hari ini menunjukkan masalah serius: WC tanpa air bersih, listrik padam berulang di ruang kuliah, hingga infrastruktur yang tak terawat.

Krisis fasilitas ini bukan sekadar persoalan teknis. Ia menyentuh inti kualitas pendidikan. Mahasiswa yang datang untuk belajar hukum, politik, dan ilmu sosial membutuhkan ruang kuliah yang mendukung konsentrasi, sanitasi yang sehat, dan energi listrik yang stabil untuk menunjang presentasi, riset, dan diskusi. Tanpa itu semua, proses belajar mengajar kehilangan efektivitas, motivasi mahasiswa tergerus, dan dosen dipaksa kembali ke metode seadanya.

Lebih jauh, minimnya fasilitas ternyata juga berhubungan dengan melemahnya energi kolektif mahasiswa. Dahulu, mahasiswa dikenal kritis, berani bersuara, dan aktif mengorganisir aksi saat melihat ketidakadilan. Namun, saat fasilitas kampus sendiri tak mendukung aktivitas dasar seperti belajar dan berkumpul, energi itu perlahan terkikis. Mahasiswa sibuk mencari ruang yang nyaman, air untuk kebutuhan sehari-hari, atau bahkan sekadar listrik untuk menyalakan laptop. Akibatnya, ruang konsolidasi melemah, semangat kolektif menurun, dan agitasi yang dulu menggelora kini meredup.

Fenomena ini berbahaya. Karena secara tak langsung, rusaknya fasilitas telah mematikan denyut intelektual sekaligus denyut perlawanan mahasiswa. Padahal, dunia kampus, terutama Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik, harus menjadi kawah candradimuka lahirnya kaum intelektual yang berani, kritis, dan siap menyuarakan kebenaran.

Masalah ini bukan sekadar keluhan remeh-temeh. Ia adalah cermin dari tata kelola universitas yang belum menempatkan mahasiswa sebagai pusat perhatian. Universitas Mataram, khususnya FHISIP, harus segera menyadari bahwa kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kualitas fasilitas. Air bersih, listrik stabil, ruang kelas yang layak, dan sanitasi sehat adalah prasyarat mutlak untuk menjaga kualitas akademik dan menghidupkan kembali gairah intelektual mahasiswa.

Sudah saatnya pimpinan kampus tidak menutup mata. kampus bukan hanya gedung, melainkan rumah peradaban. Dan rumah peradaban itu tidak boleh dibiarkan rusak oleh kelalaian mengurus fasilitas dasarnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa