simbol kemegahan ketimbang kebutuhan mendasar

Oleh juanda Ali Sahbana Sekjend KBMLU 

Di Dusun Setangi Gunung, Lombok Utara, sekitar 200 jiwa warga masih harus menunggu giliran air bersih yang hanya mengalir tiga hari sekali. Mandi, mencuci, bahkan sekadar menampung air untuk minum, semuanya menjadi kemewahan yang tak semua orang bisa nikmati setiap hari.

Tak jauh dari sana, di sekolah-sekolah pelosok, anak-anak belajar di ruang kelas yang dindingnya retak pascagempa. Beberapa masih menggunakan bangku seadanya, bahkan ada yang menulis di lantai. Rumah-rumah darurat pun masih berdiri, menjadi saksi betapa pemulihan bencana belum benar-benar tuntas.

Namun di tengah kondisi itu, Pemerintah Daerah Lombok Utara justru memutuskan mengalokasikan Rp 5,3 Miliar dari APBD untuk pembebasan lahan pembangunan Pendopo Bupati. Keputusan ini sontak menuai pertanyaan mengapa harus membeli lahan baru, sementara Pemda memiliki banyak aset tanah yang bisa dimanfaatkan? 
Kebijakan tersebut bukan hanya pemborosan, 
tetapi juga menimbulkan kecurigaan adanya kepentingan tertentu di balik proyek pendopo.

Tentu, langkah ini bukan sekadar persoalan teknis anggaran. Ini soal rasa keadilan. “Kenapa bangunan megah yang dipikirkan, sementara air bersih saja belum beres?

Jalan-jalan di Tanjung masih penuh lubang Di pelosok desa, akses transportasi semakin sulit Di sisi lain, musyawarah pembangunan yang digelar tiap tahun hanya terasa sebagai kosmetik rapat demi rapat tanpa benar-benar mendengar kebutuhan warga.

Kebijakan pembebasan lahan pendopo seakan menegaskan bahwa pemerintah lebih memilih gedung daripada rakyatnya  Padahal, berharap anggaran ratusan juta hingga miliaran rupiah itu dialihkan untuk kebutuhan yang lebih mendesak perbaikan sekolah, pemulihan rumah tahan gempa, dan layanan publik dasar. 

hentikan pemborosan, batalkan pembebasan lahan, audit aset daerah, dan alihkan APBD untuk rakyat. Karena bagi warga Lombok Utara, ini bukan semata soal efisiensi anggaran, melainkan soal empati dan keberpihakan.

Pemerintah daerah seharusnya turun ke lapangan, dari pesisir hingga ke gunung, melihat sendiri bagaimana rakyat masih berjuang untuk sekadar hidup layak. Sebab yang ditunggu rakyat bukanlah pendopo megah, melainkan pemenuhan kebutuhan dasar rumah yang layak, sekolah yang aman, jalan yang baik, dan air yang mengalir setiap hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa