Tragedi Kanjuruhan Luka Kolektif yang Belum Pulih


Oleh:Juanda Ali Sahbana menteri hukum dan HAM Bem unram

Tragedi Kanjuruhan bukan sekadar catatan kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia, melainkan potret nyata kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya Malam itu, setelah kekalahan Arema FC dari Persebaya, stadion berubah menjadi arena maut Ribuan suporter yang seharusnya pulang dengan kecewa biasa, justru pulang dengan kehilangan yang tidak pernah terbayangkan nyawa keluarga, sahabat, dan sesama pencinta sepak bola. 

Faktor pemicu utamanya jelas  penembakan gas air mata oleh aparat kepolisian Tindakan ini bukan hanya memicu kepanikan massal, tetapi juga secara terang melanggar aturan FIFA yang secara tegas melarang penggunaan gas air mata dalam pertandingan sepak bola Namun, pelanggaran ini tetap dilakukan, dan akibatnya ratusan orang kehilangan nyawa.

Bukan hanya itu, tragedi ini juga memperlihatkan betapa rapuhnya manajemen pertandingan kita Jumlah penonton yang melebihi kapasitas, pintu stadion yang sempit dan terkunci, serta prosedur keamanan yang serampangan semakin mempercepat datangnya maut Pintu 13 menjadi simbol kegagalan itu tempat di mana harapan hidup ratusan suporter terhenti.

Namun yang lebih menyakitkan adalah soal penegakan hukum Hingga hari ini, proses hukum masih belum benar-benar tuntas Korban telah kehilangan, keluarga telah berduka, tetapi akuntabilitas dari pihak-pihak yang bertanggung jawab tak kunjung jelas Hanya segelintir pihak kecil yang dikorbankan, sementara aktor-aktor utama yang seharusnya bertanggung jawab seolah dilindungi. 

Tragedi Kanjuruhan bukan sekadar "insiden sepak bola" Ia adalah tragedi kemanusiaan yang seharusnya membuka mata kita bahwa keselamatan rakyat jauh lebih penting daripada gengsi institusi atau kepentingan politik  Jika aparat keamanan dan penyelenggara pertandingan masih menutup mata terhadap kesalahan fatal ini, maka luka Kanjuruhan akan terus menganga dan menjadi catatan kelam bahwa negara pernah gagal total dalam melindungi warganya.

Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya ucapan belasungkawa, tetapi keberanian untuk menegakkan keadilan. Sebab tanpa keadilan, tragedi serupa bukan mustahil akan terulang kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa