“Betabeq” yang Tak Pernah Sampai, Janji Tiket Gratis ITDC Hanya PHP untuk Warga Mandalika

Oleh : Mavi Adiek Garlosa (Putra Daerah Mandalika ) 

Tradisi Betabeq yang selama ini digaungkan sebagai simbol kerakyatan ala Miq Iqbal, Gubernur NTB, ternyata tak lebih dari seremonial simbolik tanpa daya tawar nyata. Masyarakat lingkar Mandalika yang dijanjikan tiket gratis untuk menonton event internasional MotoGP, pada faktanya justru kembali menjadi penonton dari jauh, bahkan di tanah mereka sendiri.

Janji tiket gratis yang diumbar ITDC sejak awal, konon sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat yang lahannya sudah dikorbankan untuk sirkuit, berubah menjadi sekadar PHP (Pemberi Harapan Palsu). Realitas di lapangan menunjukkan tiket justru lebih mudah diakses investor, pejabat, dan tamu-tamu VIP. Warga lokal? Lagi-lagi terpinggirkan.

Fenomena ini mencerminkan betapa pemerintah daerah tidak cukup tegas memperjuangkan hak masyarakat. Miq Iqbal seakan larut dalam tradisi Betabeq, berbicara hangat, menjanjikan harmoni, namun ketika menyangkut kepentingan nyata rakyat lingkar sirkuit, pemerintah terlihat hanya menyuguhi janji tanpa eksekusi.

Lebih parah lagi, ITDC sebagai BUMN yang menguasai kawasan Mandalika menunjukkan wajah komersialisasi penuh. Masyarakat yang tanahnya dulu digusur, airnya dipakai, dan kehidupannya berubah total akibat proyek, kini justru harus membayar mahal untuk sekadar menonton di halaman sendiri. Bukankah ini ironi yang paling telanjang?

Janji tiket gratis semestinya bukan sekadar kompensasi simbolis, melainkan bentuk pengakuan atas pengorbanan rakyat. Namun, yang terjadi justru “gratis” itu hanya dalam wacana, selebihnya rakyat kembali jadi korban narasi pembangunan.

Sudah saatnya pemerintah daerah berhenti menggunakan bahasa budaya seperti Betabeq hanya untuk menutupi ketidakberdayaan dalam menghadapi korporasi. Jika benar berpihak, seharusnya ada sikap tegas: kuota khusus tiket gratis wajib terealisasi, transparan, dan diawasi publik. Tanpa itu, Betabeq hanya menjadi tradisi basa-basi, dan PHP ITDC hanya menambah luka lama masyarakat Mandalika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa