BAYAN DI CIPTAKAN KETIKA TUHAN SEDANG TERSENYUM



Pagi itu, setelah kopi terakhir menghangatkan dada, aku bersama delapan rekan melangkah menuju kantor desa. Langkah kami sederhana, namun niat kami penuh, mengabdi di desa dengan sejuta cerita yang seolah telah menunggu untuk dituliskan. Udara Bayan masih jujur, matahari belum tinggi, dan alam seakan memberi restu atas pengabdian yang akan kami mulai.

Sambutan Kepala Desa datang tanpa jarak. Senyum manisnya bukan sekadar formalitas, melainkan pelukan yang tak terlihat. Dalam tatapannya, kami bukan mahasiswa yang singgah, melainkan anak-anak yang pulang membawa niat baik. Di ruangan itu, kata “mengabdi” kehilangan makna kaku; ia berubah menjadi hubungan, antara yang datang dan yang menerima, antara belajar dan saling merawat.

Usai penerimaan, langkah kami menyebar menyusuri desa. Silaturahmi menjadi napas, diskusi menjadi bahasa, dan cerita-cerita kecil menjelma pengikat. Di sela perjumpaan itu, aku bertemu kawan lama-satu organisasi, satu keyakinan tentang arti pengabdian, yang juga sedang menanamkan harapannya di Bayan. Kami duduk bersila, memandang desa yang terbentang, seolah menatap masa depan dengan mata yang sama.

Ia mengajakku ikut kegiatan esok pagi: penanaman pohon di hutan adat. Ajakan itu membuatku termenung. Bayangan banjir bandang di Aceh dan Sumatera melintas, air yang murka, tanah yang lelah, hutan yang dilupakan. Di hadapan Bayan, ingatan itu terasa seperti peringatan: alam bukan objek, ia subjek yang harus dihormati.

Dan di sinilah kekagumanku menemukan rumah. Masyarakat Bayan menjaga hutan bukan sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai ikatan batin. Pohon-pohon diperlakukan layaknya anak, dirawat, dijaga, didoakan. Jika satu tumbang, duka terasa; jika satu tumbuh, syukur dirayakan. Kearifan lokal mereka bukan slogan, melainkan praktik hidup yang diwariskan dari napas ke napas.

Bayan mengajarkanku bahwa seni tertinggi adalah merawat. Merawat tanah agar tak marah, air agar tetap jernih, dan manusia agar tetap manusia. Adat di sini bukan pagar yang mengurung, melainkan jembatan yang menuntun. Setiap ritual adalah pengingat, setiap larangan adalah kasih sayang yang diselipkan agar kehidupan tetap seimbang.

Maka aku percaya, Bayan memang diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Senyum yang jatuh menjadi hutan yang lestari, menjadi masyarakat yang arif, menjadi desa yang mengajarkan kita cara mencintai tanpa merusak. Dan di antara semua itu, aku belajar: pengabdian sejati adalah ketika kita pulang dengan hati yang lebih rendah, namun pandangan yang lebih tinggi.

Bersambung.................3/45

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Klarifikasi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Lombok Tengah: Tidak Ada Rencana Aksi Besok, Tanda Tangan pimpinan Lembaga Dimanipulasi

Dugaan praktek Jual beli beasiswa di kampus swasta Medical Farma Husada, Aktivis: ombudsman dan kementerian segera investigasi.

Rektor Unram Gagal: Kegagalan Kepemimpinan dalam Satu Periode Mengurus Mahasiswa