Pohon Berganti Terpal: Menangisi Hijau yang Semu
Oleh Melati Amelia Pertiwi Duta Lingkungan NTB 2024
Jika kita melihat Lantung dari ketinggian atau melalui citra satelit, sekilas warna hijau masih mendominasi. Namun, jika kita telusuri lebih dalam, "hijau" tersebut bukan lagi pucuk-pucuk pohon rimba yang kokoh, melainkan lembaran terpal plastik yang membentang di bawah tegakan pohon yang meranggas, atau bahkan di lahan yang sudah gundul total.
Fenomena ini adalah wajah dari pertambangan emas rakyat dan perluasan lahan jagung yang masif.
Lantung yang dahulu dikenal sebagai wilayah dengan udara dingin, hutan rapat, dan aliran sungai jernih, kini perlahan berubah menjadi kawasan yang kehilangan identitas alaminya. Aktivitas ekonomi rakyat memang menjadi sumber penghidupan, tetapi ketika ia merambah tanpa batas dan tanpa kendali, ia berubah menjadi ancaman bagi kehidupan itu sendiri.
1. Kamuflase Ekologis
Penggunaan terpal hijau di kawasan hutan Lantung sering kali berfungsi ganda. Secara teknis, ia digunakan untuk melindungi lubang tambang atau hasil panen dari hujan. Namun secara visual, ia menjadi kamuflase yang ironis. Dari kejauhan, ia tampak seperti bagian dari vegetasi, padahal di bawahnya, tanah sedang dikeruk dan struktur akar yang menahan air sedang dihancurkan.
Di balik terpal yang tampak “menyatu” dengan hutan, tersembunyi praktik pembukaan lahan dan pengerukan tanah yang terjadi setiap hari. Kamuflase ini menipu mata, tetapi tidak bisa menipu dampaknya. Ia membuat kerusakan lingkungan tampak normal, padahal sedang berada pada fase yang mengkhawatirkan.
Dampaknya meliputi :
Tutupan terpal menghambat pertumbuhan vegetasi baru di permukaan tanah,
Mikroorganisme tanah mati karena perubahan suhu dan struktur tanah yang ekstrem,
2. Hilangnya Fungsi Hidrologis
Lantung adalah daerah tangkapan air
(catchment area). Ketika pohon-pohon besar yang merupakan "pompa air" alami ditebang dan diganti dengan aktivitas manusia yang ditutup terpal, kita sedang mengundang bencana.
Dulu: Akar pohon menyerap air hujan dan melepaskannya perlahan ke sungai.
Sekarang : Terpal justru mempercepat aliran air permukaan (run-off), yang berujung pada ancaman banjir bandang bagi wilayah hilir seperti Moyo Hulu dan sekitarnya.
Selain banjir bandang, perubahan ini juga menyebabkan:
Krisis air bersih di musim kemarau.
Meningkatnya sedimentasi sungai, yang membuat sungai cepat dangkal dan keruh,
Turunnya kualitas mata air pegunungan, yang sebelumnya menjadi sumber air utama desa-desa sekitar,
Retaknya tanah di area perbukitan, karena tidak ada lagi akar yang mengikat lapisan tanah.
Kerusakan di hulu selalu bergerak ke hilir. Hari ini Moyo Hulu terancam banjir, besok seluruh Sumbawa terancam kehilangan sumber airnya.
3. Racun di Balik Kerimbunan
Pemandangan terpal hijau di dalam hutan Lantung juga identik dengan penggunaan bahan kimia seperti merkuri atau sianida dalam pengolahan emas skala kecil. Ini adalah ancaman laten. Pohon yang mati mungkin bisa ditanam kembali, tetapi tanah dan sumber air yang terkontaminasi logam berat akan membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih.
Ancaman ini semakin besar karena:
Limbah pengolahan emas sering dibuang tanpa filtrasi dan pengolahan,
Aliran limbah masuk ke sungai dan tanah, lalu terbawa ke ladang, kolam, dan sumur warga,
Merkuri yang mengendap akan berubah menjadi metil-merkuri, bentuk yang jauh lebih berbahaya karena mudah masuk ke tubuh manusia,
Kontaminasi ini tidak berbau, tidak terlihat, tetapi mematikan secara perlahan.
Risiko kesehatan yang bisa muncul di masa depan : Penyakit kulit kronis akibat air tercemar,
Penurunan kesuburan tanah yang membuat lahan tidak lagi produktif,Potensi penyakit jangka panjang pada manusia dan ternak.
"Hutan tidak butuh terpal untuk menjadi hijau. Ia hanya butuh dibiarkan tumbuh tanpa gangguan keserakahan yang dibungkus plastik."
Kesimpulan
Fenomena "pohon berubah menjadi terpal hijau" di Lantung adalah alarm keras bagi pemerintah daerah dan masyarakat Sumbawa. Kita sedang menukar kekayaan jangka panjang (ketersediaan air dan oksigen) dengan keuntungan jangka pendek yang rapuh. Jika tren ini terus berlanjut, Lantung tidak akan lagi menjadi paru-paru Sumbawa, melainkan sekadar hamparan plastik yang menyembunyikan kerusakan lingkungan yang parah.
Lantung bukan sekadar tanah tinggi. Ia adalah sumber kehidupan. Ketika hijau hanya tersisa sebagai plastik, maka yang kita jaga bukan lagi alam melainkan ilusi. Dan ilusi tidak pernah bisa menghidupi manusia.
Komentar
Posting Komentar